Minggu, 19 Desember 2010

cerina ini ni keren looh (y)

judul cerpen ini adalah "TRIO PEMBASMI HANTU"
di ciptakan oleh ARUMI EKOWATI



“Reza,kamu jalan di depan,ya! Aku dan Lena  di tengah, Adit di belakang,” Helen mengatur posisi mereka berempat. Reza dan Adit  mengangguk mantap. Lena menghela napas sedikit gugup. Sab tu mala m ini, Helen dan kedua sepupunya, Reza dan Adit, menginap di villa Helen. Tanpa sepengetahuan papa dan mama Helen yang pergi ke kotea, mereka berencana memburu hantu di villa yang terkenal berhantu di desa ini. Letak villa tak jauh dari villa milik orangtua Helen.
Sekarang jam delapan tepat.mereka telah siap berburu hantu.ktiga murid kelas VI SD itu tidak takut hantu. Mereka menyebut diri mereka TRIO PEMBASMI HANTU. Lena sebetulnya takut, namun ia di minta trio itu untk menunjukkan jalan menuju villa berhantu itu. Orangtua Lena kadang bermain di villa Helen sepulang sekoah.

Nafas mereka tersengal begitu sampai di villa berhantu tersebut. Villa itu cukup besar.berlantai dua. Cat dindingnya memudar dan sebagian nya mengelupas. Halamannya di tumbuhi ilalang tinggi. Kaca depan villa itu berlapis debu tebal sehingga sulit melihat ke dalama villa. Adit mencoba membuka pintu depan.”Pintunya tekunci. Coba kita lihat dari belakang” ajak  Adit. Bagian belakang villa itu tampka sangat berantakan. Kaca pecah berserakan, ada banyak kayu dan papan bekas terbakar teronggok begitu saja. Pintu belakang ternyata juga terkunci.

“Eh,lihat! Jendelanya enggak ada kacanya. Kita pasti bisa masuk lewat situ”. Bisik Hellen sambil menunjuk satu jendela besar di samping itu. Satu persatu mereka masuk melalui jendela itu. Hellen menyalakan senter kecilnya. Ternyata mereka berada di dapur yang berantakan. Beberapa bagian tampak gosong bekas terbakar. Hellen memasuki ruangan selanjutnya yang sangat luas tanpa pembatas. Ia menyorotkan senter ke lantai ruang itu.
“Aneh. Kenapa ada jejak kaki di lantai? Jejak kaki ini dari dapur menuju tangga. Terus ke lantai dua” bisik Hellen. “Artinya, ada orang yg baru saja masuk ke villa ini. Jejak- jejaknya baru, karena tidak ditutupi debu,” sahut Reza berbisik juga.

Perkahan mereka mengikuti jejak kaki itu, menuju ke arah tangga. Debu di pegang tangga juga tampak tersapu tangan seseorang. Mereka menaiki anak tangga itu satu persatu tanpa suara. Lena yang agak takut terus saja memegangi ujung kaos Helen dari belakang. Di lantai dua, ada empat kamar dengan pintu tertutup. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong di depan kamar-kamar itu. Melewati kamar pertama, kedua, ketiga, dan kamar ke empat. “Lihat, ada cahaya dari kamar itu. Berarti…” bisik Adit kepada yang lain. “ada orang di kamar itu!”suara Helen sedikit panik. “Ssstt!” bisik Reza dan Adit kompak mengingat Helen agar jangan bicara terlalu keras.

Brak!! Tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka! Reza, Adit, Helen, dan Lena Terkejut. Di hadapan merekaberdiri sosok bergaun putih panjang tergerai! Wajah sosok itu seputis kertas dengan mata tajam kea rah mereka! Sosok tampak melayang. “Han…hantu!!” teriak Helen begitu kerasnya. Menggema ke seluruh ruangan. Aneh, tiba-tiba sosok bergaun putih itu terbalik, masuk kembali ke dalam kamar keempat itu dan pintu kamar itu kembali tertutup.
“Kak…pulang saja yuk…aku takut..” Rengek Lena. “Lena, kalau kamu mau pulang, pulang aja sendiri. Kami mau masuk!” bisik Reza.  “Hah? Masuk ke kamar itu, Rez? Tapi, kan, ada hantunya...” bisik Helen. “aku tidak yankin kalau belum benar-benar melihatnya.

Masak hantu menyalakan lampu mau ikut masuk, kan? Kamu bukan anak lelaki penakut, kan?” Bisik Reza. “tentu saja aku ikut masuk! Aku bukan penakut! Bisik Adit yakin. Akhirnya Lena dan Helen ikut nekat mendekati kamar itu. Sesampai di depan kamar itu, Reza mencoba membuka pintunya perlahan.
 Mereka berempat menyorotkan masing-masing senter kecilnya ke segala penjuru kamar itu. Aneh, kamar itu tampak rapi. Ada seheai tikar di lantai, ua bantal, setumpuk pakaian dan selimut. Juga ada beberapa botol air mineral dan dua stoples berisi kue. “Itu dia hantunya!” Helen menyorotkan senternya kea rah sosok berselimut tebal d salah satu sudut ruangan.

Mereka mendatangi sosok itu sambil menyorot senter mereka. Helen meraih selimut yang tertutup rapat sosok itu. Tampaklah sosok yang sesungguhnya. Bergaun putih panjang, rambutnya panjang terurai, wajahnya pucat seputih kertas, di kedua kakinya terikat sebila bambu bercat hitam. “Tolong, jangan tangkap saya,” ucap sosok itu dengan suara bergetar. Reza, Helen, dan Adit melong memasangi sosok meringuk itu. Tiba-tiba, “Itukan kak Erna!” tiba-tiba terdengar teriakan Lena. Erna adalah gadis berusia 17 tahun yang dulu bekerja di villa pak Danu itu. Enam bulan yang lalu, kompor gas di dapur pun meledak. Sebagian dapur itu pun terbakar. Pak Danu tak pernah dating lagi ke villa itu. Erna hidup sebatang kara dan tak punya rumah. Ia akhirnya diam-diam tinggal di villa itu. Di siang hari, ia bekerja menjaga sebuah toko di pasar. Ernalah yg menyebarkan cerita villa it berhantu. “jadi, kamu yg sengaja menakuti pendduk denar menyamar sebagai hantu?” Tanya Helen setelah mereka semua kembali ke villa Helen .

Erna pun terpaksa unutk ikut. Mereka berjanji agar idak melaporkan Erna kepada polisi. “Iya, maafkan saya. Saya terpaksa, supaya nggak ada yang berani dating ke vila itu!” kata erna dgn wajah sedikit menyesal. Tapi, kenapa kamu bisa melayang?” Benar-benar seperti hantu?” Tanya Reza. “Oh, saya pakai egrang, pijakan kaki dari bamboo yang tingginya 40 cm. Egrang itu saya bikin sendiri, saya cat hitam supaya kalau malam nggak kelihatan.” Jawab Erna malu-malu. Ia berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatan nya.Helen menceritakan apa yang terjadi kepada papa dan mama. Mereka pun mengijinkan Erna untuk bekerja di villa itu.

Comment + like :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 19 Desember 2010

cerina ini ni keren looh (y)

judul cerpen ini adalah "TRIO PEMBASMI HANTU"
di ciptakan oleh ARUMI EKOWATI



“Reza,kamu jalan di depan,ya! Aku dan Lena  di tengah, Adit di belakang,” Helen mengatur posisi mereka berempat. Reza dan Adit  mengangguk mantap. Lena menghela napas sedikit gugup. Sab tu mala m ini, Helen dan kedua sepupunya, Reza dan Adit, menginap di villa Helen. Tanpa sepengetahuan papa dan mama Helen yang pergi ke kotea, mereka berencana memburu hantu di villa yang terkenal berhantu di desa ini. Letak villa tak jauh dari villa milik orangtua Helen.
Sekarang jam delapan tepat.mereka telah siap berburu hantu.ktiga murid kelas VI SD itu tidak takut hantu. Mereka menyebut diri mereka TRIO PEMBASMI HANTU. Lena sebetulnya takut, namun ia di minta trio itu untk menunjukkan jalan menuju villa berhantu itu. Orangtua Lena kadang bermain di villa Helen sepulang sekoah.

Nafas mereka tersengal begitu sampai di villa berhantu tersebut. Villa itu cukup besar.berlantai dua. Cat dindingnya memudar dan sebagian nya mengelupas. Halamannya di tumbuhi ilalang tinggi. Kaca depan villa itu berlapis debu tebal sehingga sulit melihat ke dalama villa. Adit mencoba membuka pintu depan.”Pintunya tekunci. Coba kita lihat dari belakang” ajak  Adit. Bagian belakang villa itu tampka sangat berantakan. Kaca pecah berserakan, ada banyak kayu dan papan bekas terbakar teronggok begitu saja. Pintu belakang ternyata juga terkunci.

“Eh,lihat! Jendelanya enggak ada kacanya. Kita pasti bisa masuk lewat situ”. Bisik Hellen sambil menunjuk satu jendela besar di samping itu. Satu persatu mereka masuk melalui jendela itu. Hellen menyalakan senter kecilnya. Ternyata mereka berada di dapur yang berantakan. Beberapa bagian tampak gosong bekas terbakar. Hellen memasuki ruangan selanjutnya yang sangat luas tanpa pembatas. Ia menyorotkan senter ke lantai ruang itu.
“Aneh. Kenapa ada jejak kaki di lantai? Jejak kaki ini dari dapur menuju tangga. Terus ke lantai dua” bisik Hellen. “Artinya, ada orang yg baru saja masuk ke villa ini. Jejak- jejaknya baru, karena tidak ditutupi debu,” sahut Reza berbisik juga.

Perkahan mereka mengikuti jejak kaki itu, menuju ke arah tangga. Debu di pegang tangga juga tampak tersapu tangan seseorang. Mereka menaiki anak tangga itu satu persatu tanpa suara. Lena yang agak takut terus saja memegangi ujung kaos Helen dari belakang. Di lantai dua, ada empat kamar dengan pintu tertutup. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong di depan kamar-kamar itu. Melewati kamar pertama, kedua, ketiga, dan kamar ke empat. “Lihat, ada cahaya dari kamar itu. Berarti…” bisik Adit kepada yang lain. “ada orang di kamar itu!”suara Helen sedikit panik. “Ssstt!” bisik Reza dan Adit kompak mengingat Helen agar jangan bicara terlalu keras.

Brak!! Tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka! Reza, Adit, Helen, dan Lena Terkejut. Di hadapan merekaberdiri sosok bergaun putih panjang tergerai! Wajah sosok itu seputis kertas dengan mata tajam kea rah mereka! Sosok tampak melayang. “Han…hantu!!” teriak Helen begitu kerasnya. Menggema ke seluruh ruangan. Aneh, tiba-tiba sosok bergaun putih itu terbalik, masuk kembali ke dalam kamar keempat itu dan pintu kamar itu kembali tertutup.
“Kak…pulang saja yuk…aku takut..” Rengek Lena. “Lena, kalau kamu mau pulang, pulang aja sendiri. Kami mau masuk!” bisik Reza.  “Hah? Masuk ke kamar itu, Rez? Tapi, kan, ada hantunya...” bisik Helen. “aku tidak yankin kalau belum benar-benar melihatnya.

Masak hantu menyalakan lampu mau ikut masuk, kan? Kamu bukan anak lelaki penakut, kan?” Bisik Reza. “tentu saja aku ikut masuk! Aku bukan penakut! Bisik Adit yakin. Akhirnya Lena dan Helen ikut nekat mendekati kamar itu. Sesampai di depan kamar itu, Reza mencoba membuka pintunya perlahan.
 Mereka berempat menyorotkan masing-masing senter kecilnya ke segala penjuru kamar itu. Aneh, kamar itu tampak rapi. Ada seheai tikar di lantai, ua bantal, setumpuk pakaian dan selimut. Juga ada beberapa botol air mineral dan dua stoples berisi kue. “Itu dia hantunya!” Helen menyorotkan senternya kea rah sosok berselimut tebal d salah satu sudut ruangan.

Mereka mendatangi sosok itu sambil menyorot senter mereka. Helen meraih selimut yang tertutup rapat sosok itu. Tampaklah sosok yang sesungguhnya. Bergaun putih panjang, rambutnya panjang terurai, wajahnya pucat seputih kertas, di kedua kakinya terikat sebila bambu bercat hitam. “Tolong, jangan tangkap saya,” ucap sosok itu dengan suara bergetar. Reza, Helen, dan Adit melong memasangi sosok meringuk itu. Tiba-tiba, “Itukan kak Erna!” tiba-tiba terdengar teriakan Lena. Erna adalah gadis berusia 17 tahun yang dulu bekerja di villa pak Danu itu. Enam bulan yang lalu, kompor gas di dapur pun meledak. Sebagian dapur itu pun terbakar. Pak Danu tak pernah dating lagi ke villa itu. Erna hidup sebatang kara dan tak punya rumah. Ia akhirnya diam-diam tinggal di villa itu. Di siang hari, ia bekerja menjaga sebuah toko di pasar. Ernalah yg menyebarkan cerita villa it berhantu. “jadi, kamu yg sengaja menakuti pendduk denar menyamar sebagai hantu?” Tanya Helen setelah mereka semua kembali ke villa Helen .

Erna pun terpaksa unutk ikut. Mereka berjanji agar idak melaporkan Erna kepada polisi. “Iya, maafkan saya. Saya terpaksa, supaya nggak ada yang berani dating ke vila itu!” kata erna dgn wajah sedikit menyesal. Tapi, kenapa kamu bisa melayang?” Benar-benar seperti hantu?” Tanya Reza. “Oh, saya pakai egrang, pijakan kaki dari bamboo yang tingginya 40 cm. Egrang itu saya bikin sendiri, saya cat hitam supaya kalau malam nggak kelihatan.” Jawab Erna malu-malu. Ia berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatan nya.Helen menceritakan apa yang terjadi kepada papa dan mama. Mereka pun mengijinkan Erna untuk bekerja di villa itu.

Comment + like :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar